Load Balancing: Pengertian, Cara Kerja, Fungsi, Jenis, dan Contohnya
Pengertian Load Balancing
Load Balancing adalah metode untuk membagi beban trafik atau permintaan dari pengguna ke beberapa server agar tidak hanya bergantung pada satu server.
Tujuan utamanya adalah:
- Meningkatkan performa sistem
- Mencegah server mengalami overload
- Meningkatkan availability/ketersediaan layanan
- Mengurangi risiko downtime
- Membantu distribusi trafik secara merata
Cara Kerja Load Balancing
Secara sederhana alurnya:
User → Load Balancer → Server
Berikut cara kerja nya dapat dilihat pada gambar berikut :
Ketika banyak user mengakses aplikasi, Load Balancer menentukan server mana yang menerima request.
Contoh Sederhana
Misalnya sebuah perusahaan mempunyai website:
www.perusahaan.com
Website tersebut memiliki 3 server:
| Server | IP Address | Fungsi |
|---|---|---|
| Server 1 | 192.168.10.11 | Web Server |
| Server 2 | 192.168.10.12 | Web Server |
| Server 3 | 192.168.10.13 | Web Server |
Load Balancer mempunyai IP:
192.168.10.10
User tidak langsung mengakses server.
Berikut contoh sederhana versi visual
Metode Load Balancing
Beberapa metode yang umum digunakan:
Round Robin
Request dibagikan bergantian ke setiap server.
Least Connections
Request diarahkan ke server yang memiliki jumlah koneksi aktif paling sedikit.
Weighted Load Balancing
Server diberikan bobot berdasarkan kemampuan hardware.
Contoh Ketika Server Down
Salah satu manfaat penting load balancing adalah high availability.
Misalnya: Server 2 mengalami gangguan.
Load Balancer dapat mendeteksi bahwa Server 2 tidak dapat melayani request melalui health check.
Kemudian trafik diarahkan ke server yang masih aktif: Dengan demikian, website tetap dapat diakses.
Contoh Teknologi Load Balancing
Beberapa teknologi yang dapat digunakan:
- HAProxy
- NGINX
- F5 BIG-IP
- AWS Elastic Load Balancing
- Azure Load Balancer
- Google Cloud Load Balancing
- MikroTik untuk skenario tertentu pada jaringan
Share this content:








Post Comment